• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
HILANGNYA BUDAYA MALU PEMICU KEBEJATAN PEJABAT DAN POLITISI

#1
Salah satu karakteristik moral bangsa kita yang mulai luntur ialah budaya malu. Karena hilangnya budaya malu, maka banyak para pejabat dan politisi kita, yang menduduki jabatan-jabatan strategis, menjadi bejat moralnya dengan melakukan berbagai tindakan yang melanggar norma-norma adat dan konstitusi.
Dalam budaya malu ini penulis membaginya menjadi tiga bagian yaitu : (i) Malu mencuri (korupsi), (ii) Malu meminta-minta, dan (iii) Malu menampilkan organ-organ vital.
 
1)     Malu Mencuri (Korupsi)
Kita yakin bahwa semua agama mengajarkan tentang hal mencuri atau mengambil sesuatu yang bukan hak milik  tanpa sepengetahuan sang pemilik adalah “dosa”. Begitupun semua budaya yang dianut oleh semua suku bangsa di Indonesia tidak mengajarkan untuk mencuri. Itulah sebabnya jika seseorang kedapatan mencuri maka orang tersebut akan dihajar oleh massa secara beramai-ramia walaupun dari segi hukum disalahkan.

Oleh karena itu sejak kecil semua orang tua tidak mengajarkan kepada anaknya untuk mencuri karena orang yang mencuri dianggap membawa aib bagi keluarga itu sendiri dan keturunannya. Contoh sederhananya adalah dalam kehidupan rumah tangga. Seorang ibu terkadang sudah membagi  jatah makan bagi sang ayah atau bapak atau salah satu anak yang tidak bisa makan siang atau makan malam bersama-sama dengan keluarganya, biasanya seorang ibu sudah membagikan atau menyisihkan makanan untuk orang tersebut. Jika  seorang anak kedapatan mengambil jatah makan yang sudah disisihkan tersebut akan dinasehati oleh sang ibu. Bila perbuatan tersebut terus dilakukan oleh anak tersebut, maka anak tersebut pasti dididik lebih keras lagi oleh sang ibu dengan cara dipukul misalnya. Anak yang dipukul merupakan salah satu cara yang digunakan oleh sang ibu untuk mendidik anak bahwa mengambil sesuatu yang sudah dijatahkan kepada orang lain merupakan perbuatan yang tidak baik.

Kalau demikian kita akan bertanya, mengapa pencurian masih merajalela dimana-mana bahkan dengan modus yang lebih canggih yang terkadang merenggut nyawa orang lain? Jawabannya adalah karena keserakahan. Mungkin diantara para pembaca ada yang setuju dan ada pula yang tidak setuju. Namun nyata bahwa keserakahan merupakan faktor utama yang menyebabkan seseorang mencuri. Orang tersebut tidak puas dengan apa yang dimiliki saat ini. Ia selalu menginginkan lebih dari apa yang dimilikinya saat ini walaupun penghasilnya tidak menunjang untuk mewujudkan akan segala keinginannya. Maka jalan yang ditempuh adalah mencuri.

Lalu bagaimana dengan  para koruptor, apakah mereka juga disebut pencuri? Ya, seorang koruptor juga seorang pencuri. Pencuri merupakan istilah yang kasar bagi seorang pejabat negara yang mengambil uang rakyat untuk kepentingan pribadinya, maka dipakai istilah koruptor sebagai istilah yang lebih halus yang dikenakan bagi para pencuri uang rakyat. Mengapa demikian? Pencuri ataupun koruptor mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya tanpa sepengetahuan sang pemilik untuk kepentingan pribadinya karena keserakahan. Seorang koruptor mengambil uang negara yang mana uang negara merupakan uang rakyat yang dipercayakan kepada pemerintah untuk dikelola  bagi kepentingan rakyat juga.
 
2)     Malu meminta-minta
Manusia diciptakan Allah sebagai manusia yang tidak sempurna agar manusia saling tolong menolong, saling melengkapi satu dengan yang lain dan terus menggantungkan hidup dan harapan kepada Allah. Oleh karena itu perbuatan meminta bantuan kepada orang lain merupakan perbuatan yang wajar.

Namun, bagaimana dengan perbuatan meminta-minta yang dijadikan sebagai profesi untuk mencari nafkah dengan meminta belas kasihan orang lain. Apakah itu dikatakan wajar? Di kota-kota besar dan kota-kota kecil di Indonesia sudah bukan merupakan suatu pemandangan yang asing apabila kita menemukan banyak orang yang duduk dipersimpangan jalan yang mengulurkan tangan sambil berkata: “tolong om, tolong tante….buat makan,”  atau “tolong om, tolong tante….anak saya sakit”! Dan berbagai ungkapan lainnya  bahkan ada  yang sekedar mengulurkan tangan tanpa kata-kata memohon belas kasihan. Ada juga yang memanfaatkan anak kecil yang harusnya berada di rumah bermain bersama teman-teman sebayanya atau harus berada di sekolah menimba ilmu demi masa depannya harus rela digendong atau menemani ibunya menjadi peminta-minta dipinggir jalan menghirup asap kendaraan yang lalu lalang yang tentunya berpengaruh terhadap kesehatan generasi-generasi penerus harapan bangsa.

Dari uluran tangan memohon belas kasihan tersebut ada yang memberi dengan sukacita namun ada juga yang tidak memberi namun mengumpat: “dasar pemalas…masih kuat-kuat tidak cari kerja, jadi  pembantu kek, tukang kebun kek, tukang sapu kek dan lain-lain tapi mau jadi tukang peminta-minta”.

Apakah tukang peminta-minta di penggir-pinggir jalan dan persimpangan-persimpangan jalan harus disalahkan? Jawabannya bisa ya dan juga bisa tidak tergantung sudut pandang kita masing-masing. Tentu ada yang berkata bahwa tukang minta-minta dipinggir jalan adalah bukan budayanya kita. Dimana nenek moyang kita dikenal sebagai para pekerja keras dibuktikan dengan rempah-rempah yang dihasilkan bumi pertiwi yang membuat negara lain tertarik dengan rampah-rempah yang dihasilkan. Rempah-rempah ini tentunya tidak langsung ada tapi diusahakan oleh tangan-tangan yang mengais-ngais bumi pemberian Allah untuk dijaga dan diusahakan.

Nenek moyang kita merasa malu apabila menjadi tukang peminta-minta. Itulah sebabnya sejak kecil anak sudah diajari untuk bekerja menyelesaikan pekerjaan rumah tangga mulai dari pembagian tugas untuk menyapu, mengepel, mencuci piring,  memasak dan sebagainya sesuai dengan usia dan perkembangan anak dengan harapan si anak terbiasa berkerja supaya tidak menjadi peminta-minta memohon belas kasihan. Meskipun meminta-minta adalah kerja juga karena harus rela menghirup asap kendaraan, harus rela disengat terik mentari.

Oleh karena itu sejak dini sebagai orang tua jangan mengajari anak untuk menjadi peminta-minta. Tanamkan dalam diri mereka bahwa meminta-minta itu memalukan sebab itu bukan budaya kita. Ajarkan kepada anak-anak untuk memanfaatkan kaki untuk melangkah, memanfaatkan tangan untuk mengais-ngais, memanfaatkan otak pemberian Allah apapun latar belakang pendidikan kita untuk bekerja memenuhi segala kebutuhan hidup asal jangan mencuri (korupsi), asal jangan jadi tukang peminta-minta.
 
3)     Malu menampilkan organ-organ vital
Ketika manusia pertama Adam dan Hawa melanggar perintah Allah dengan memakan buah pohon yang di larang oleh Allah, maka terbukalah mata mereka berdua dan meraka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun-daun pohon dan membuat cawat. Itu berarti bahwa sejak manusia diciptakan Allah dimuka bumi ini, Allah telah melengkapi manusia dengan pembungkus atau pelindung tubuh untuk melindungi manusia dari panas, dingin dan menutup organ-organ tubuh yang vital agar tidak mudah dilihat oleh orang lain. Itulah sebabnya Adam dan Hawa cepat-cepat membuat cawat dari daun pohon untuk menutupi organ vitalnya karena malu setelah mengetahui bahwa mereka telanjang.

Budaya ini dipegang teguh oleh semua masyarakat di seluruh bumi ini. Sejak lahir seorang bayi atau anak sudah diberikan pakaian untuk melindungi tubuh dari dingin, panas tapi juga menutupi organ-organ tubuh.

Indonesia sebagai negara yang kaya budaya karena keanekaragaman budaya tak satupun budaya yang mengajarkan untuk menampilkan organ-organ vital manusia. Indonesia dikenal sebagai negara yang memegang teguh budaya. Orang akan merasa malu apabila organ tubuhnya yang vital dilihat, disentuh dan dinikmati oleh orang lain yang belum menikah secara sah. Dulu ketika kita masih kecil-kecil jarang kita jumpai orang memakai pakain yang you can see, jarang kita menjumpai orang memakai pakaian yang berbahan tipis tembus pandang untuk jalan-jalan kecuali di rumah atau kamar, jarang juga kita menjumpai orang berpakaian yang ketat-ketat yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh bahkan lekuk-lekuk organ-organ tubuh yang sensitif.

Iblis  bekerja meraja lela dimana-mana mengoda, merayu dan merubah sudut pandang manusia. Dengan alasan mode, dengan alasan perkembangan zaman supaya tidak dianggap kuno, dengan alasan seni orang sudah tidak memiliki rasa malu untuk menampilkan organ-organ vital didepan  umum. Entah dengan alasan apa, pakaian yang harusnya dikenakan oleh anak-anak atau seorang remaja dikenakan oleh seorang dewasa.  Alhasil ketika pakaian tersebut dikenakan maka pakaian tersebut menjadi kekecilan, kependekan namum tetap dipaksakan untuk dipakai. Ketika orang ini berjalan dan dilihat oleh orang-orang sekeliling, ada yang tersenyum-senyum mengagumi keindahan ciptaan Tuhan, ada juga yang tersenyum-senyum penuh birahi ingin menikmati apa yang tersembunyi dibalik gaun yang dikenakan.

Orang sudah tidak merasa malu lagi untuk menampilkan organ-organ tubuhnya yang vital. Orang sudah tidak merasa malu untuk berhubungan sex dengan bukan pasangan nikahnya. Yang terjadi sekarang justru kebalikannya. Orang merasa malu jika menjadi perjaka tua dan  perawan tua. Maka terjadilah selingkuh dimana-mana, yang mana meskipun perselingkuhan ataupun hubungan suami istri yang dilakukan oleh bukan pasangan sah diketahui oleh orang lain bukan membuat mereka menjadi malu tapi justru menjadi sebuah kebanggaan. Orang sudah tidak merasa malu untuk tampil vulgar untuk dipotret, orang sudah tidak merasa malu lagi membuat video hubungan sex dan menampilkannya di dunia maya untuk dilihat masyarakat umum. Hubungan sex atau hubungan suami istri yang merupakan karunia ilahi diperjual belikan. Hal-hal seperti ini tidak saja terjadi dimasyarakat perkotaan tapi sudah merambat hingga masyarakat pedesaan.

Faktor penyebab hilangnya rasa malu – berdasarkan aspek rasa malu yang telah disebutkan diatas, yaitu malu mencuri, malu meminta-minta dan malu menampilkan organ vital – faktor pertama yang menjadi penyebab hilangnya rasa malu untuk mencuri (korupsi) adalah  semakin susahnya mencari pekerjaan sehingga orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu. Faktor kedua adalah semakin sempitnya lahan-lahan pertanian sebagai akibat dari berubahnya lahan-lahan produktif menjadi tempat hunian, gedung pencakar langit atau tempat-tempat usaha lainnya yang membutuhkan tenaga kerja yang terampil. Faktor ketiga adalah ingin mendapatkan sesuatu dengan cara gampang.

Faktor pertama  dan kedua terjadi pada orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah umumnya orang-orang yang  tidak miliki ijazah SD maupun SMP yang tidak memiliki ketrampilan apapun untuk bekerja menghasilkan sesuatu. Sementara bagi orang-orang yang berpendidikan rendah yang dilatih menjadi terampil maupun orang-orang yang berpendidikan tinggi yang mana modus pencurian memanfaatkan kemajuan dibidang teknologi seperti pembobolan ATM, hipnotis, perampokan bersenjata dan masih banyak yang lain.

Adapun faktor penyebab terjadinya pencurian uang rakyat atau yang lebih dikenal dengan korupsi adalah keserakahan, bergaya hidup mewah dan berfoya-foya. Serakah menyebabkan orang lupa diri. Serakah membuat orang menginginkan lebih dari apa yang dihasilkan dan dipunyai. Memang wajar apabila orang menginginkan sesuatu perubahan dalam hidupnya, namun yang menjadi tidak wajar apabila untuk mewujudkan akan keinginannya dia mengambil kepunyaan orang lain.

Negeri ini semakin terperosok, pengangguran semakin meningkat, tukang minta-minta ada dimana-mana disebabkan oleh para koruptor yang mengambil uang rakyat. Uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan rakyat banyak diambil untuk kepentingan pribadinya. Hukum di negeri ini seakan-akan hanya berlaku untuk rakyat kecil yang karena kekurangan makan lalu mencuri seekor ayam ditangkap dan dipenjarakan. Sementara para koruptor yang mengambil uang rakyat bermiliar-miliar dan menyengsengsarakan rakyat hidup berfoya-foya bahkan kalau dipenjara terkesan bukan dipenjara tapi hanya pindah tempat tinggal.

Pencurian dan perampokan dimana-mana dapat dikatakan sebagai akumulasi dari kekecewaan rakyat terhadap aparatur negara yang menjalankan kepercayaan yang diberikan rakyat kepadanya tidak dengan sungguh-sungguh. Suara rakyat yang seharusnya suara Tuhan sudah tidak berlaku lagi. Pudarnya rasa malu menyebabkan orang sudah tidak lagi memperhitungkan akan kepentingan orang lain.

Pemerkosaan  dan perselingkuhan terjadi dimana-mana bahkan hampir tiap hari media massa selalu memberitakan akan adanya perkosaan baik pada orang dewasa maupun anak dibawah umur. Jika demikian siapakah yang harus disalahkan? Apakah kita katakan bahwa si pelaku pemerkosa yang salah seorang diri? Tentu tidak. Semua kita yang hidup di negeri ini bersalah. Karena apa? Karena pudarnya rasa malu. Seandaianya semuanya berpakaian sopan, tidak tampil vulgar yang menimbulkan hawa nafsu, tidak mengupload foto maupun video porno dan lain sebagainya maka pasti terjadi penurunan kekerasan seksual. Walaupun yang namanya aksi porno, video porno tidak saja berasal dari negeri sendiri tapi dari luar negeri juga dapat ditemui di dunia maya.  Namun sebagai bangsa yang berbudaya yang memiliki rasa malu, tentunya akan merasa malu apabila memperlihatkan hal-hal yang seharusnya dibungkus dengan rapi yang hanya boleh dilihat, disentuh dan dinikmati oleh orang yang dicintai yang telah terikat secara sah melalui pernikahan yang diakui oleh agama dan negara. Semua kita harus mampu menahan diri dari cengkraman hawa nafsu.

Nah, bagaimana cara memulihkan budaya malu? Satu-satunya cara untuk memulihkan dan memelihara kembali budaya malu sebagai budaya bangsa agar tidak terjadi perampokan, korupsi, porno aksi dan berbagai tindakan tidak bermoral lainnya adalah bertobat minta ampun pada Allah bahwa apa yang telah dilakukan telah menyusahkan banyak orang. Agama jangan dijadikan sebagai topeng untuk menutupi kebobrokan. Agama jangan dijadikan seperti sebuah kuburan yang dari luar kelihatannya indah namun didalamnya penuh dengan kebusukan. Hanya dengan bertobatlah orang akan merasa malu, merasa takut untuk berbuat hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma agama dan masyarakat. Apa artinya memperoleh semua kenikmatan dan kemewahan yang hanya bersifat sementara yang pada akhirnya membawa kesengsaraan di dunia dan akhirat. Sebab, hidup di dunia ini bukanlah satu-satunya kehidupan. Masih ada kehidupan yang lain yang harus dijalani sebagai kelanjutannya.

Apabila ini dilakukan maka kita yakin kemerosotan moral di negeri ini akan berangsur-angsur pulih. Kesejahteraan rakyat bukan sekedar sebagai slogan untuk diucapkan namun harus diwujud nyatakan. Kesejatraan rakyat sebagaimana cita-cita  para pendiri negeri ini yang dituangkan dalam undang-undang dasar 1945 akan terwujud. Dengan demikian negeri ini yang saat ini dikenal sebagai negara urutan kesekian dalam hal korupsi akan semakin hilang karena adanya budaya malu. Malu untuk mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya, malu untuk meminta-minta tetapi negeri yang rakyatnya pekerja keras, malu untuk menampilkan hal-hal-hal yang sensitif untuk dilihat oleh khalayak umum.

Akhirnya mari kita sama-sama berjuang guna mengembalikan budaya malu sebagai budaya kita guna mewujudkan negeri kita sebagai negeri yang makmur, rakyat sejahtera, nyaman untuk ditinggali dan bersama-sama menjaga keutuhan dan integritas bangsa dari rongrongan bangsa lain.
Khairul Ghazali
Reply

#2
Hahaha. Udah ilang urat malunya pak, apa kemaluannya ?
Reply

#3
Gimana nggak hilang, kemaluannya saja udah dipamerin.
Reply

#4
(11-01-2015, 11:07 AM)Gagak13 Wrote: Gimana nggak hilang, kemaluannya saja udah dipamerin.

Wakakaka, dipamerin kesiapa gan ?
Reply

#5
Instal ulang para pejabat dan politisi !
Reply

#6
(11-01-2015, 12:33 PM)Bi4ngK Wrote: Instal ulang para pejabat dan politisi !

Sekalian gedung - gedungnya dihancurin itu kalo menurut saya. Soalnya digedung itu udah banyak sisa2 maksiatnya yang g jelas. Jadi Dibom saja sekalian Isi - isinya
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015