• 0 Vote(s) - 0 Average
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Ketika Negara Tutup Mata Terhadap Anak-anak Teroris

#1
Walaupun belum ada data yang valid tentang jumlah anak-anak teroris di Indonesia, baik yang orangtuanya ditahan maupun meninggal dunia, namun diprediksi anak-anak teroris itu mencapai lebih 2000 orang. Mereka hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, ada yang terpaksa bekerja sebagai buruh anak, bahkan ada di antaranya yang putus sekolah. Haruskah anak-anak itu menanggung beban 'dosa' yang tak pernah mereka lakukan? Jika dibiarkan, bisa mengarah ke pelanggaran HAM secara sistematis, karena negara bertanggungjawab sepenuhnya terhadap anak-anak usia sekolah dalam program “Wajib Belajar”.


Anak seorang teroris tidak secara otomatis bisa digolongkan sebagai teroris, apalagi mereka masih di bawah umur. Demikian pula istri seorang teroris tidak secara otomatis dimasukkan ke dalam kelompok teroris, sebab yang bersalah adalah suaminya bukan istrinya. Siapa yang akan menanggung beban 'sanksi sosial' yang amat berat itu? Padahal, istri dan anak teroris yang mendapat stigma sebagai keluarga teroris, tidak sepantasnya mendapat hukuman social sebagaimana yang dialami suami/bapak mereka.

Selama ini seorang teroris selalu tertutup bahkan terhadap keluarga dan istrinya sendiri. Jangankan dengan keluarganya, antarteroris sendiri mereka saling tidak kenal, karena menggunakan “sistim sel.” Maka tidaklah mengherankan jika aparat kesulitan melacaknya meski ada yang tertangkap, karena mereka tidak saling kenal apalagi mengetahui persembunyiannya. 

Ada keyakinan di kalangan masyarakat teroris, dimana mereka yang dinyatakan bersalah atas tuduhan terorisme biasanya didaulat sebagai orang “shalih,” bersedia menyerahkan nyawa mereka untuk agama. Mantan tahanan memegang status tinggi dalam masyarakat teroris setelah menjalani hukuman di balik jeruji besi. Itulah sebabnya, sesudah menjalani masa hukuman, mereka akan memasuki habitatnya kembali.

Tidak menutup kemungkinan kelak para anak mereka akan meneruskan ”perjuangan” para orangtuanya. Kasus semacam itu sering terjadi di Palestina, Afghanistan dan Irak. Sebab ternyata sebagian para pelaku bom bunuh diri adalah istri atau anak yang suami atau ayahnya dibunuh pasukan pendudukan di ketiga negara bergolak tersebut. 

Hal itu terbukti pada 2007 lalu ketika terjadi penangkapan terhadap Isa (16) dan Fauzan (18) di Sleman Yogyakarta. Mereka menjadi teroris bukan karena keinginannya tetapi keadaan yang memaksa mereka menjadi teroris. Ruri ayah Isa adalah seorang teroris anggota JI yang dikenal sebagai penembak jitu, sehingga Isa terpaksa ikut ”gerakan” sang ayah meski baru berumur 16 tahun. Barangkali Isa berpikir, mengikuti sang ayah merupakan bentuk “birrul walidain” atau berbakti kepada kedua orang tua. Inilah cara berpikir kurang tepat, maklum Isa masih tergolong anak-anak dan belum bisa berfikir secara dewasa.

Terlepas dari ideologi mereka yang disebut "teroris", tanpa kita sadari nasib dan cara pandang mereka akan membentuk karakter bangsa pula, karena mereka adalah manusia-manusia Indonesia, sang penerus estafet kemerdekaan negeri ini.

Rupanya pemerintah melupakan persoalan penting yang satu ini, sensitivitas terhadap rasa kemanusiaan. Jika disimak berita tentang anak-anak teroris, sungguh tidak relevan ‘sanksi pemerintah’ turut menimpa anak-anak suci yang tidak berdosa itu. Apa dasar dan kepentingan anak itu sehingga dibiarkan? Kalau memang benar, mereka anak-anak teroris, lalu kenapa? Apa yang salah dengan anak itu?

Semestinya pemerintah ikut bertanggung jawab terhadap nasib anak-anak dari orang-orang yang diduga teroris dan mereka yang terlibat bersinggungan langsung dengan aktivitas terorisme. Karena anak-anak yang orangtuanya ditangkap polisi diduga terkait terorisme mempunyai hak dan kesempatan yang sama dengan anak-anak lain untuk tumbuh dan berkembang. Artinya, anak-anak tidak boleh dikaitkan dengan keyakinan yang dipilih orangtuanya. Anak-anak itu tidak tahu apa-apa tentang terorisme, termasuk juga perbuatan orangtuanya. Melabelkan mereka dengan ‘anak teroris’ sama saja dengan menghilangkan hak asasi manusia.

Seharusnya pemerintah membentuk sekolah khusus tidak hanya bagi anak teroris, tetapi juga para teroris yang telah selesai menjalani hukuman penjara akibat perbuatannya yang merugikan masyarakat, sekaligus mendiskreditkan Islam sebagai agama damai dan rahmatan lil alamin, seperti yang dilakukan pemerintahan Arab Saudi dan Mesir, sehingga mampu mengembalikan mereka ke tengah masyarakat dengan kehidupannya yang normal.

Kekerasan dalam berbagai wujud tak pernah menyelesaikan persoalan, kecuali justru akan melahirkan bentuk kekerasan yang baru. Anak-anak pun harus diberi bekal pemahaman nilai dasar kemanusiaan ini sejak dini, agar mata rantai kekerasan terputus. Memberikan stigma negatif kepada anak pun merupakan bentuk kekerasan terhadap orang lain, maka harus dihentikan!
Reply

#2
Wah benar juga bapak gozhali ini, seharusnya ada perlakuan tersendiri bagi para anak - anak teroris ini.
Reply

#3
Nah benar, saya setuju sekali dengan pendapat ini.
Reply

#4
(10-24-2015, 07:24 AM)Nyi Kembang Wrote: Nah benar, saya setuju sekali dengan pendapat ini.

Apakah nantinya anak-anak tersebut tidak mengikuti jejak orang tuanya yang menjadi teroris pak ? Harus dibina ini kejalan yang benar.
Reply

#5
Mereka adalah manusia dan masih memiliki hak-haknya, tolong diarahkan kejalan yang benar dan tidak merugikan Indonesia bahkan diarahkan menjadi orang yang bermatabat dari Indonesia untuk dunia Smile
Berjalan - Terserak - Sampah !!!
Reply

#6
Saya rasa mereka perlu hak lebih untuk bisa membangun indonesia . Insyaallah jika dididik dengan baik mereka akan mengikuti kecerdasan orang tuanya. Kecerdasan ya, bukan jejaknya
Reply

#7
(10-25-2015, 03:01 AM)jajaranrakyat Wrote: Saya rasa mereka perlu hak lebih untuk bisa membangun indonesia . Insyaallah jika dididik dengan baik mereka akan mengikuti kecerdasan orang tuanya. Kecerdasan ya, bukan jejaknya

Kecerdasan yang bermanfaat bagi warga Indonesia nantinya.
Reply

#8
(10-25-2015, 04:29 AM)Nyi Kembang Wrote:
(10-25-2015, 03:01 AM)jajaranrakyat Wrote: Saya rasa mereka perlu hak lebih untuk bisa membangun indonesia . Insyaallah jika dididik dengan baik mereka akan mengikuti kecerdasan orang tuanya. Kecerdasan ya, bukan jejaknya

Kecerdasan yang bermanfaat bagi warga Indonesia nantinya.

Nah saya begitu sangat setuju untuk gagasan ini. Tak share ah Rolleyes
Reply

#9
Mengapa negara tutup mata ? Siapa yang salah, orang tuanya. Anak itu gimana akhir ceritanya ?
Berjalan - Terserak - Sampah !!!
Reply

#10
(10-25-2015, 07:20 AM)Bidadar1 Wrote: Mengapa negara tutup mata ? Siapa yang salah, orang tuanya. Anak itu gimana akhir ceritanya ?

Semoga ada yang berfikiran sama dengan kita neng.
Reply


Digg   Delicious   Reddit   Facebook   Twitter   StumbleUpon  


Users browsing this thread:
1 Guest(s)


  Theme © 2015